PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD
|
Nama |
: Amirotunnisa’ |
|
NIM |
: 191310004123 |
|
Kelas |
: 4 PAI A7 |
|
Mata Kuliah |
: Psikologi Perkembangan |
|
Dosen Pengampu |
: Naili Rofiqoh, S. Psi., M.Si. |
|
Prodi |
: Pendidikan Agama Islam |
|
Fakultas |
: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan |
|
Universitas |
: UNISNU Jepara |
|
|
PENDAHULUAN
Di era sekarang ini banyak sekali seseorang
menilai orang lain sesuai sifat yang dicerminkan oleh setiap individu. Dan
setiap individu yang lahir dan hidup di dunia ini memiliki sifat atau
karakteristik yang berbeda dengan individu yang lain. Selain itu dalam proses
perkembangan individu yang hidup memiliki ciri khas tersendiri sesuai dengan
umur yang dilalui individu tersebut. Dalam hal inilah menjadikan para ilmuan
meneliti setiap karakteristik individu yang hidup di dunia ini sesuai dengan
perkembangan individu tersebut.
Banyak sekali teori-teori perkembangan yang muncul mengenai perkembangan individu
yang hidup didunia ini. Salah satunya yaitu teori psikodomika. Teori
psikodomika ini menjelaskan tentang hakikat dan perkembangan kepribadian setiap
individu yang lahir dan hidup di dunia ini. Adapun unsur-unsur yang diutamakan
dalam teori ini yaitu motivasi, emosi, dan aspek-aspek internal lainnya. Teori
ini berasumsi bahwa kepribadian individu itu akan berkembang manakala terjadi
konflik-konflik dari aspek-aspek psikologi tersebut, yang umumnya terjadi pada
masa kanak-kanak. Teori psikodinamik juga percaya bahwa perkembangan merupaka
suatu proses yang aktif dan dinamis yang sangat dipengaruhi oleh
dorongan-dorongan individual yang dibawa sejak lahir serta
pengalaman-pengalaman social dan emosional yang telal dilalui individu
tersebut. Teori psikodinamik ini sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud dan Erik
Erikson. Teori Sigmund Freud yang dikenal dengan teori teori psikoanalisa
akan dibahas pada essay ini secara lebih detailnya beserta tahap
perkembangannya yag terjadi pada setiap individu, mulai individu tersebut lahir
sampai dewasa.
PEMBAHASAN
A. Teori Sigmund Freud
Sigmund Freud lahir di Freiberg, 6 Mei 1856 dan meninggal di London, 23 September
1939 di usia 83 tahun. Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan yahudi
dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang psikologi (Pasiska,
2020:4).
Teori
psikoanalisis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud yaitu teori yang paling komprehensif
diantara teori-teori kepribadian lainnya, teori ini didasarkan pada analisis
diri dan observasi klinis atas pasiennya yang memiliki gangguan kejiwaan pada
saat itu (Syawal : 2). Teori ini juga memiliki dua penekanan yaitu ; kesan
mendalam terhadap keseluruhan pribadi individu dan adanya motif-motif yang
tidak disadari (Muhtar, 2020 : 40).
Sigmund
Freud meyakini bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting yaitu ;
id, ego, dan superego. Id merupakan struktur kpribadian seseorang yang masih
murni dan id juga juga merupakan sumber dari ego
dan superego yang berkembang. Bagi Sigmund
Freud, manusia adalah
makhluk yang berenergi.
Keseluruhan perilakunya ditentukan oleh
tenaga-tenaga yang menguasai
zona ketidaksadaran atau alam
bawah sadar manusia tersebut (Kluytmans,
2006: 64). Ego adalah
bagian kepribadian yang
bertugas sebagai pelaksana,
dimana sistem kerjanya
pada dunia luar untuk menilai realita dan
berhubungan dengan dunia
dalam untuk mengatur
dorongan-dorongan id agar tidak
melanggar nilai-nilai yang mengacu pada superego. Ego disebut sebagai
“executive branch” (badan pelaksana) kepribadian, karena ego membuat
keputusan-keputusan rasional. Menurut Baldwin (1967:14) fungsi ego adalah
sebagai berikut :
1.
Menahan penyaluran dorongan
2.
Mengatur desakan-desakan dorongan yang sampai
pada kesadaran
3.
Mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai
tujuan-tujuan yang dapat diterima
4.
Berfikir logis
5.
Mempergunakan pengalaman emosi-emosi kecewa
atau kesal sehingga tanda adanya sesuatu yang salah, yang tidak benar, sehingga
dapat dikategorikan dengan hal-hal lain untuk memutuskan apa yang akan
dilakukan sebaik-baiknya.
Sedangkan
Superego
adalah bagian moral
dari kepribadian manusia,
karena ia merupakan
filter dari sensor
baik-buruk, salah-benar, boleh-tidak sesuatu yang dilakukan oleh
dorongan atau stimulus (Ahmad, 2011 : 294).
Tahap-tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Sigmund Freud yang
didasarkan psikoseksual manusia kemudian didasarkan lagi pada istilah
“erogenous zones” (daerah kenikmatan seksual) bagian tubuh manusia yaitu sebagai
berikut (Desmita, 2005 : 41) :
|
Tahap
/ Fase |
Usia
/ Tahun |
Daerah
Kenikmatan Seksual |
Ciri-Ciri
Perkembangan Individu |
Konflik
yang Timbul pada Individu |
Dampak
dari Kegagalan Fase Bagi Individu |
|
Oral |
0 -1 |
Mulut |
Ketika
melihat atau memegang benda maka bayi akan menguyah, menggigit, dan menghisap
barang tersebut. |
1.
Ibu
menyapih bayinya 2.
Mengurangi
ketergantungan pada ibu. |
kesulitan
mempercayai orang lain, peminum, perokok, makan terlalu banyak, suka
menggigit kukunya sendiri. |
|
Anal |
1-3 |
Anus/Dubur |
Kenikmatan
seorang anak terjadi ketika ia mampu buang air besar. |
1)
Anak
harus belajar bagaimana caranya untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. 2)
orang
tua memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet atau kamar
mandi pada saat yang tepat, 3)
pengalaman
positif selama tahap ini dapat menjadi dasar individu untuk menjadi orang dewasa
yang kompeten, produktif dan kreatif. 4)
Orang
tua tidak boleh mengejek dan menghukum anak jika anak tersebut salah |
Kurangnya
rasa percaya diri pada anak, memiliki kepribadian yang agresif dan kompulsif, |
|
Phallic |
3-6 |
Alat
Kelamin/Alat Vital |
Anak
mulai menaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan anatomic antara laki-laki
dan perempuan, terhadap asal-usul bayi dan terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan kegiatan seks. |
Anak
perempuan akan dekat dengan ayahnya sedangkan anak laki-laki mulai melihat
ayah mereka sebagai saingan mereka karena anak laki-laki menganggap bahwa kasih
sayang yang diberikan ibu kepada ayahnya jauh lebih besar daripada dirinya
sendiri. |
kepribadian
yang imoral dan tidak tahu aturan dalam bertindak. |
|
Latency |
6-12 |
Masa Tenang |
Anak
menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan social dan
intelektual. Kegiatan ini banyak menyalurkan energi anak ke dalam
bidang-bidang yang amansecara emosional dan menolong anak melupakan konflik
pada tahap phallic yang sangat menekan |
a)
Saat
individu bereksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke
daerah yang lain seperti pengajaran intelektual dan interaksi sosial. b)
Pengembangan
keterampilan sosial dan komunikasi dengan orang lain, serta menumbuhkan rasa
percaya diri. |
Kepribadian
yang kurang bersosialisasi dengan lingkungannya bahkan terkadang tidak
perduli terhadap kingkungannya. |
|
Genital |
12-Remaja |
Pubertas |
Dorongan-dorongan
yang ada pada masa phallic kembali berkembang, setelah berada dalam keadaan
tenang selama masa latency. Kematangan fisiologis ketika anak memasuki masa
remaja, mempengaruhi timbulnya daerah-daerah erogen pada alat kelamin sebagai
sumber kemikmatan. |
1.
Menyukai
lawan jenis dan melakukan hubungan percintaan lewat berpacaran. 2.
Seorang
anak akan mulai melepas diri dari orangtuanya 3.
Belajar
bertanggung jawab akan dirinya. |
Melakukan
kegiatan sesuka hatinya sesuai dengan kehendaknya yang membuat individu itu
puas, sehingga pada fase ini individu jarang terkontrol dalam berbuat dan
bertindak. |
B. Problematika Pendidikan dan Solusinya Menurut Teori Psikoanalisis.
1.
Problem Atau
Masalah Yang Dihadapi
Psikoanalisis
memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada pendidikan. Hubungan di antara
mereka seperti sebuah perkawinan di mana kedua pasangan sadar akan kebutuhan bersama,
tetapi tidak terlalu mengerti satu sama lain karea mereka tidak mengerti akan
namanya menyatu (Bettelheim, 1969:73). Jadi tujuan-tujuan pendidikan yang
dinyatakan berdasarkan tori psikoanalisis adalah memberi tuntunan bagi pendidik
dan anak didik tentang apa yang hendak dicapai dalam kegiatan-kegiatan yang
mereka lakukan, dan tentang kemajuan yang dicapai oleh anak didik.
Istilah belajar
adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental
dalam penyelenggaraan setiap jenis dan setiap jenjang pendidikan (Syah,
2010:87). Ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan sangat
bergantung pada proses belajar yang dialami oleh peserta didik, baik ketika
berada di sekolah maupun lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Karena
peserta didik bukan miniature orang dewasa jadi pelajaran dan pengajaran yang
diberikan pendidik harus sesuai dengan kebutuha tingkat peserta didik tersebut.
Dilain sisi tidak semua peserta didik memiliki pemahaman yang sama, bahkan ada
diantara mereka yang cara berfikirnya lambat atau bahkan motoriknya lambat,
selain itu juga setiap peserta didik memiliki bakat dan minatnya
sendiri-sendiri bahkan ada peserta didik ada yang suka dengan mata pelajaran A
belum tentu peserta didik yang lain suka dengan mata pelajaran A tersebut.
2.
Solusi
Dari Problematika
Oleh karenanya,
pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan
manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru.
Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan
hal-hal yang berkaitan mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil
pembelajaran yang dicapai peserta didik. Berhubungan dengan kendala-kendala
dalam kegiatan belajar anak didik, seorang guru dapat mengukur dari tiga aspek,
yaitu :
1)
Perkembangan
motorik (motor development), yakni proses perkembangan yang progresif
dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor
skills).
2)
Perkembangan
kognitif (cognitive development), yakni perkembangan fungsi intelektual
atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak.
3)
Perkembangan
sosial dan moral (social and moral development), yakni proses
perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak
berkomunikasi dengan orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.
(Syawal : 9-10).
PENUTUP
A. Simpulan
Sigmund
Frued merupakan tokoh psikologi yang terkenal dengan teori psikoanalisnya, menurutnya
bagian
terbesar dalam pemikiran
yang dikemukakan oleh Sigmund Frued adalah bahwa pemikiran seseorang yang terbesar berada pada alam bawah
sadar seseorang tersebut. Bagian
itu mencakup segala
sesuatu yang sangat sulit dibawa
ke alam sadar mereka. Di antaranya adalah segala sesuatu
yang memang asalnya
berasal dari alam bawah
sadar, seperti nafsu,
insting dan segala
sesuatu yang masuk
di dalamnya dan
sulit dijangkau, seperti
kenangan atau emosi
traumatik. Sigmund Freud juga menyatakan
bahwa alam bawah sadar adalah sumber motivasi dan dorongan terhadap
hasrat seseorang, baik
yang sederhana, seperti
makan, seks, maupun kreativitasnya seperti berkarya. Hingga muncullah
teori psikoanalisis ini yang didasarkan pada kepribadian seseorang yang
mencakup id, ego, dan superego seseorang yang semuanya itu mengacu pada
kenikmatan seksual seseorang. Dalam perkembangannya Sigmund frued membagi
tahapan perkembangan seseorang menjadi lima tahap yaitu ; oral (0-1 tahun),
anal (1-3 tahun), phallic (3-6 tahun), latency (6-12 tahun), dan genital (12
tahun – remaja).
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2005. Psikologi
Perkembangan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/Religia/article/view/92/531 Jurnal oleh Maghfur
Ahmad. Vol. 14 No. 2 : Oktober 2011.
https://www.researchgate.net/profile/Helaluddin-Helaluddin/publication/323535054_Psikoanalisis_Sigmund_Freud_dan_Implikasinya_dalam_Pendidikan/links/5a9a57750f7e9be379640c45/Psikoanalisis-Sigmund-Freud-dan-Implikasinya-dalam-Pendidikan.pdf jurnal oleh Helaluddin Syahrul Syawal.
Pasiska Dan Takdir
Alisyahbana. 2020. Manusia Dalam Pandangan Psikologi. Yogyakarta :
Deepublish.
Saputra, Nefri Anra
Danyuniarti Munaf. 2020. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta :
Deepublish.
Tatang Muhtar. 2020. Sosiologi Olahraga Cetakan Ke-3. Bandung : CV. Salam Insan Mulia.