MANAJEMEN KONFLIK

 


A.      PENDAHULUAN

Konflik merupakan realita social yang sering terjadi di masyarakat[1] sehingga setiap orang tak bisa menghindari konflik yang terjadi dalam dirinya. Dalam diri manusia terjadinya konflik dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu identitas social, factor social ekonomi, factor kredibilitas seorang tokoh dalam masyarakat, dan factor perilaku komunikasi seseorang dengan orang lain[2].

Manusia dikatan bahwa tidak lepas dari yang namanya konflik, namun dengan adanya konflik inilah manusia mampu melakukan perubahan yang ada dalam dirinya, bahkan jika seorang sudah mampu mendirikan perusahaan maka konflik dianggap sebagai perubahan dalam menata perusahaanya[3]. Konflik yang terjadi bisa berupa konflik yang berasal dari dalam atau dari luar perusahaan[4].

Agar konflik yang terjadi di perusahaan tidak terjadi secara terus menerus maka konflik tersebut perlu direda. Dalam meredakan konflik inilah perlu mengetahui manajemen konflik. Sehingga dengan memanajemen konflik inilah sebuah perusahaan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.

 

B.       PEMBAHASAN

1.    Definisi Manajemen Konflik

Konflik berasal dari bahasa Latin conjigere yang berarti saling memukul[5]. Dari bahasa latin kemudian diadopsi ke dalam bahasa inggris, conflict artinya percekcokan, konflik, perselisihan, pertentangan[6] yang akhirnya diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki sasaran- sasaran yang tidak sejalan atau berselisih[7]. Sedangkan, manajemen konflik adalah sebagai proses pihak yang terlibat konflik atau pihak ketiga menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi atau jalan keluar yang diinginkan[8].

2.    Tujuan Manajemen Konflik

Tujuan utama manajemen konflik yaitu untuk membangun dan mempertahankan kerja sama yang kooperatif dengan para bawahan atau karyawan/pegawai, teman sejawat, atasan dan pihak luar. Beberapa bentuk contoh perilaku manajemen konflik seperti adanya tawar menawar produk, pemecahan masalah secara integrative, pendekatan untuk menangani konflik yang menyangkut seorang manajer dan pihak lain yang bantuannya dibutuhkan untuk mencapai sasaran pekerjaan.[9]

Berkaitan dengan manajemen konflik, Fisher sebagaimana dikutip Rusdiana (2015:171) menggunakan bahwa tujuan adanya manajemen konflik, yaitu sebagai berikut :

a.    Pencegahan konflik bertujuan untuknmencegah timbulnya konflik yang terus menerus

b.    Penyelesaian konflik bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai.

c.    Pengelolaan konflik bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku ke arah positif ata baik bagi pihak-pihak yang terlibat.

d.    Resolusi konflik menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan tahan lama di antara individu atau kelompok-kelompok yang berkonflik.

3.    Jenis-Jenis Konflik

Secara umum jenis-jenis konflik yaitu sebagai berikut :

a.    Konflik dalam diri individu, terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya atau bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan dengan keahliannya.

b.    Konflik antar individu dalam organisasi, dimana hal ini sering diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan kepribadian. Konflik ini juga berasal dari adanya konflik antar peranan (seperti antara manajer dan bawahan).

c.    Konflik antara individu dan kelompok, yang berhubungan dengan era individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka. Sebagai contoh seorang individu mungkin dihukum atau diasingkan oleh kelompok kerjanya karena melanggar norma-norma kelompok.

d.    Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, karena terjadi pertentangan antar kelompok.

e.    Konflik antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dan sistem perekonomian suatu negara. Konflik ini telah mengarahkan timbulnya pengembangan produk baru, teknologi, dan jasa, dan harga-harga lebih rendah.[10]

4.    Proses Konflik

Konflik merupakan proses yang dinamis, bukan dalam kondisi statis, karena sejatinya konflik itu berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi. Konflik memiliki awal, dan melalui banyak tahap sebelum berakhir. Ada banyak pendekatan yang baik untuk menggambarkan proses suatu konflik antara lain sebagai berikut :

a.    Antecedent Conditions or latent Conflict, merupakan kondisi yang berpotensi untuk menyebabkan, atau mengawali sebuah episode konflik. Atecedent conditions dapat tidak terlihat, tidak begitu jelas di permukaan. Perlu diingat bahwa kondisi-kondisi ini belum tentu mengawali proses suatu konflik.

b.    Felt Conflict.Persepsi berkaitan erat dengan perasaan. Karena itulah jika orang merasakan adanya perselisihan baik secara aktual maupun potensial, ketegangan, frustasi, rasa marah, rasa takut, maupun kegusaran akan bertambah. Di sinilah mulai diragukannya kepercayaan terhadap pihak lain, sehingga segala sesuatu dianggap sebagai ancaman, dan orang mulai berpikir bagaimana untuk mengatasi situasi dan ancaman tersebut.

c.    Conflict Resolution or Suppression.Conflict resolution atau hasil suatu konflik dapat muncul dalam berbagai cara. Kedua belah pihak mungkin mencapai persetujuan yang mengakhiri konflik tersebut. Mereka bahkan mungkin mulai mengambil langkah-langkah untuk mencegah terulangnya konflik di masa yang akan datang. Tetapi terkadang terjadi pengacuan (suppression) dari konflik itu sendiri.Hal ini terjadi jika kedua beJah pihak menghindari terjadintya reaksi yang keras, atau mencoba mengacuhkan begitu saja ketika terjadi perselisihan. Konflik juga dapat dikatakan selesai jika satu pihak berhasil mengalahkan pihak yang lain.[11]

5.    Langkah-Langkah dalam Peyelesaian Konflik

Menurut Stevenin dalam Handoko (2001: 48), terdapat lima langkah dalam meraih kedamaian atau jalan keluar saat berkonflik, yaitu sebagai berikut:

a.    Pengenalan konflik

Pengenalan konflik merupakan pengenalan terjadinya suatu masalah. Hal ini ditandai dengan kesenjangan antara keadaan yang satu dengan yang lainnya, hal ini terjadi karena kesalahan dalam mendeteksi (tidak mempedulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak ada).

b.    Diagnosis konflik.

Diagnosis konflik merupakan metode dalam mengali informasi mengenai siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana konflik bisa terjadi. Hal utama yaitu memusatkan perhatian pada masalah utama dan bukan pada hal-hal sepele.

c.    Menyepakati suatu solusi.

Kumpulkanlah masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saringlah penyelesaian yang tidak dapat diterapkan atau tidak praktis. Jangan sekali-kali menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik. Carilah yang terbaik.

d.    Pelaksanaan.

Ingatlah bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian dari setiap keputusan yang diambil dalam menangani sebuah konflik yang terjadi. Namun hati-hati, jangan biarkan pertimbangan ini terlalu mempengaruhi pilihan dan arah pada kelompok tertentu.

e.    Evaluasi.

Penyelesaian itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru jika penyelesaiannya tampak tidak berhasil maka kembalilah ke langkah -langkah sebelumnya dan cobalah lagi.[12]

 

C.       SIMPULAN

Manajemen konflik merupakan suatu proses dalam memecahkan suatu masalah sehingga menemukan jalan keluar. Adanya manajemen konflik ini bertujuan untuk membangun dan mempertahankan kerja sama yang kooperatif dengan para bawahan atau karyawan/pegawai, teman sejawat, atasan dan pihak luar. Manusia yang hidup di dunia pasti menemui yang namanya konflik baik konflik yang berasal dari dalam individu maupun dari luar individu tersebut. Serta konflik tidak terjadi begitu saja, melainkan konflik terjadi melalui sebuah proses sehingga memicu terjadinya suatu konflik. Adapun proses konflik yang terjadi yaitu Antecedent Conditions or latent Conflict, Felt Conflict.Persepsi, and Conflict Resolution or Suppression.Conflict resolution. Dalam memenejemen konflik ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu pengenalan konflik, diagnosis konflik, menyepakati setiap solusi, melaksanakan, evaluasi hasil.

 

D.      DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Khoirul. 2018. Urgensi penerapan manajemen konflik dalam organisasi pendidikan. Al-Fikri: Jurnal Studi dan Penelitian Pendidikan Islam. Vol. 1. No. 2

Heridiansyah, Jefri. 2014. Manajemen Konflik dalam Sebuah Organisasi. Jurnal STIE Semarang (Edisi Elektronik). Vol. 6. No. 1.

John M. Echols dan Hasan Shadily. 2005. Kamus Inggris Indonesia (Cet. XXVI). Jakarta: PT Gramedia.

Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi.Cetakan ke-10. Yogyakarta : Andi.

Mitchel, The Structure of International Conflict, Macmillan, London, 1981. BAB 1, dikutip dalam Simon Fisher et all. 2001. Mengelola Konflik, The British Council.

Muspawi, Mohamad. 2014. Manajemen konflik (upaya penyelesaian konflik dalam organisasi). Vol. 16. Jambi University.

Sumartias, Suwandi, dan Agus Rahmat. 2013. Faktor-faktor yang memengaruhi konflik sosial." Jurnal Penelitian Komunikasi. Vol. 16. No.1.

Utami, Setyaningsih Sri. 2008. Peran Manajer dalam Konflik Organisasi. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan. Vol.  8. No. 1.

Waeduloh, Hasan. 2014. "Manajemen Konflik dalam Perspektif DakwahJurnal Dakwah Tabligh. Vol. 15. No. 1.

Wirawan. 2010. Konflik dan Manajemen Konflik; Teori, Aplikasi dan Penelitian. Jakarta: Salemba Humanika.

Zuldin, Muhamad. 2019. Ketimpangan Sebagai Penyebab Konflik: Kajian atas Teori Sosial KontemporerTEMALI: Jurnal Pembangunan Sosial. Vol. 2. No. 1.



[1] Zuldin, Muhamad. 2019. Ketimpangan Sebagai Penyebab Konflik: Kajian atas Teori Sosial KontemporerTEMALI: Jurnal Pembangunan Sosial. Vol. 2. No. 1. Hal : 157.

[2] Sumartias, Suwandi, dan Agus Rahmat. 2013. Faktor-faktor yang memengaruhi konflik sosial." Jurnal Penelitian Komunikasi. Vol. 16. No.1. Hal : 18-19.

[3] Waeduloh, Hasan. 2014. "Manajemen Konflik dalam Perspektif DakwahJurnal Dakwah Tabligh. Vol. 15. No. 1. Hal : 92.

[4] Utami, Setyaningsih Sri. 2008. Peran Manajer dalam Konflik Organisasi. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan. Vol.  8. No. 1. Hal. 81.

[5] Wirawan. 2010. Konflik dan Manajemen Konflik; Teori, Aplikasi dan Penelitian. Jakarta: Salemba Humanika. Hal : 2.

[6] John M. Echols dan Hasan Shadily. 2005. Kamus Inggris Indonesia (Cet. XXVI). Jakarta: PT Gramedia. Hal : 138.

[7] Mitchel, The Structure of International Conflict, Macmillan, London, 1981. Bab 1, dikutip dalam Simon Fisher et all. 2001. Mengelola Konflik, The British Council. Hal. 4.

[8] Waeduloh, Hasan. 2014. Manajemen Konflik dalam Perspektif DakwahJurnal Dakwah Tabligh. Vol. 15. No. 1. Hal : 94.

[9] Anwar, Khoirul. 2018. Urgensi penerapan manajemen konflik dalam organisasi pendidikan. Al-Fikri: Jurnal Studi dan Penelitian Pendidikan Islam. Vol. 1. No. 2. Hal : 34.

[10] Heridiansyah, Jefri. 2014. Manajemen Konflik dalam Sebuah Organisasi. Jurnal STIE Semarang (Edisi Elektronik). Vol. 6. No. 1. Hal : 30.

[11] Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi.Cetakan ke-10. Yogyakarta : Andi. Hal. 30-38.

[12] Muspawi, Mohamad. 2014. Manajemen konflik (upaya penyelesaian konflik dalam organisasi). Vol. 16. Jambi University. Hal : 46.